7:38 AM
0
Berkenaan dengan jual beli yang dilarang dalam Islam,Wahbah al-Zuhaily meringkasnya sbb :

1. Terlarang Sebab Ahliah (Ahli Akad)Ulama telah sepakat bahwa jual beli dikategorikan shahih apabila  dilakukan oleh orang yang baligh, berakal, dapat memilih dan mampu bertasharruf secara bebas dan baik. Mereka yang dipandang tidak sah  jual belinya adalah sbb :
a. Jual beli orang gila. Ulama fiqih sepakat bahwa jual beli orang yang gila tidak sah. Begitu pula sejenisnya, seperti orang mabuk dll.
b. Jual beli anak kecil. Ulama fiqih sepakat bahwa jual beli anak  kecil (belum mumayyiz) dipandang tidak sah kecuali dalam perkara-perkara ringan dan sepele. Menurut ulama Syaf i’iyah, jual beli anak mumayyiz yang belum baligh tidak sah sebab tidak ada ahliah.Adapun menurut ulama Malikiyah, Hanafiyah dan hanabilah, jual beli anak kecil dipandang sah jika diizinkan walinya. Mereka antara lain beralasan salah satu cara untuk melatih kedewasaan adalah dengan memberikan keleluasaan untuk jual beli, juga pengamalan atas f irman Allah Swt .Allah Swt berf irman,

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapat mu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya”. (Q.S. An Nisaa’ 4 : 6)
c. Jual beli orang buta. Jual beli orang buta dikategorikan shahih menurut jumhur jika barang yang dibelinya diberi sifat (diterangkan sifat-sifat nya).Adapun menurut ulama Syafi’iyah, jual beli orang buta itu tidak sah sebab ia tidak dapat membedakan barang yang jelek dan yang baik.

d. Jual beli terpaksa. Menurut ulama Hanafiyah, hukum jual beli orang terpaksa seperti jual beli fudhul (jual beli tanpa seizin pemiliknya) yakni ditangguhkan (mauquf ).Oleh karena itu keabsahannya ditangguhkan sampai rela (hilang rasa terpaksa). Menurut ulama Malikiyah, tidak lazim baginya ada khiyar.Adapun menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah, jual beli tersebut tidak sah sebab tidak ada keridaan ketika akad.

e. Jual beli fudhul. Jual beli fudhul adalah jual beli milik orang tanpa seizin pemiliknya. Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah, jual beli ditangguhkan sampai ada izin pemiliknya.Adapun menurut ulama Hanabilah dan Syafi’iyah, jual beli fudhul tidak sah.

f . Jual beli orang yang terhalang. Maksud terhalang di sini adalah terhalang karena kebodohan, bangkrut ataupun sakit . Jual beli orang yang bodoh yang suka menghamburkan hartanya, menurut pendapat ulama Malikiyah, Hanafiyah dan pendapat paling shahih di kalangan Hanabilah, harus ditangguhkan.

g. Jual beli malja’. Jual beli malja’ adalah jual beli orang yang sedang dalam bahaya, yakni untuk menghindar dari perbuatan zalim. Jual beli tersebut fasid, menurut ulama Hanafiyah dan batal menurut ulama Hanabilah.

2. T erlarang Sebab Shighat
Ulama fiqih telah sepakat atas sahnya jual beli yang didasarkan pada keridaan di antara pihak yang melakukan akad, ada kesesuaian diantara ijab dan qabul, berada di satu  tempat dan tidak terpisah oleh suatu pemisah.Jual beli yang tidak memenuhi ketentuan tersebut dipandang tidak sah. Beberapa jual beli yang dipandang tidak sah atau masih diperdebat kan oleh para ulama adalah sbb :

a. Jual beli mu’athah. Adalah jual beli yang telah disepakati oleh pihak akad, berkenaan dengan barang maupun harganya tetapi tidak memakai ijab qabul. Jumhur ulama mengat akan shahih apabila ada ijab dari salah satunya.Begitu pula dibolehkan ijab qabul dengan isyarat , perbuatan atau cara-cara lain yang menunjukkan keridaan. Memberikan barang dan menerima uang dipandang sebagai shighat dengan perbuatan atau isyarat .Adapun ulama Syafi’iyah (Muhammad asy-Syarbini, Mughni al-Muht aj, juz 2, hal.3) berpendapat bahwa jual beli harus disertai ijab qabul yakni dengan shighat lafazh, tidak cukup dengan isyarat sebab keridhaan sifat itu tersembunyi dan tidak dapat diketahui kecuali dengan ucapan. Mereka hanya membolehkan jual beli dengan isyarat bagi orang yang uzur.Jual beli mu’athah dipandang tidak sah menurut ulama Hanafiyah tetapi sebagian ulama Syafi’iyah membolehkannya seperti Imam Nawawi. (As-Suyut i, Al-Asbah, hal.89) Menurutnya, hal itu dikembalikan kepada kebiasaan manusia. Begitu pula Ibn Suraij dan Ar-Ruyani membolehkannya dalam halhal kecil.

b. Jual beli melalui surat atau melalui utusan. Disepakati ulama fiqih bahwa jual beli melalui surat atau utusan adalah sah. Tempat berakad adalah sampainya surat atau utusan dari aqid pertama kepada aqid kedua. Jika qabul melebihi tempat , akad tersebut dipandang tidak sah seperti surat tidak sampai ke tangan yang dimaksud.

c. Jual beli dengan isyarat atau tulisan. Disepakati keshahihan akad dengan isyarat atau tulisan khususnya bagi yang uzur sebab sama dengan ucapan. Selain itu, isyarat juga menunjukkan apa yang ada dalam hati aqid. Apabila isyarat tidak dapat dipahami dan tulisannya jelek (tidak dapat dibaca), akad tidak sah.

d. Jual beli barang yang tidak ada di tempat akad. Ulama fiqih sepakat bahwa jual beli atas barang yang tidak ada di tempat adalah tidak sah sebab tidak memenuhi syarat terjadinya aqad.

e. Jual beli tidak bersesuaian antara ijab dan qabul. Hal ini dipandang tidak sah menurut kesepakatan ulama. Akan tetapi, jika lebih baik, seperti meninggalkan harga, menurut ulama Hanafiyah membolehkannya, sedangkan ulama Syafi’iyah menganggapnya tidak sah.

f . Jual beli munjiz. Adalah yang dikait kan dengan suatu syarat atau ditangguhkan pada waktu yang akan datang. Jual beli ini, dipandang fasid menurut ulama Hanafiyah, dan batal menurut jumhur ulama.

3. Terlarang Sebab Ma’qud Alaih (Barang Jualan)Secara umum, ma’qud alaih adalah harta yang dijadikan alat pertukaran oleh orang yang akad, yang biasa disebut mabi’ (barang jualan) dan harga.Ulama fiqih sepakat bahwa jual beli dianggap sah apabila ma’qud alaih adalah barang yang tetap atau bermanfaat , berbentuk, dapat diserahkan, dapat dilihat oleh orang-orang yang akad, tidak bersangkutan dengan milik orang lain dan tidak ada larangan dari syara’.Selain itu, ada beberapa masalah yang disepakati oleh sebagian ulama tetapi diperselisihkan oleh ulama lainnya, di antaranya sbb :

a. Jual beli benda yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada. Jumhur ulama sepakat bahwa jual beli barang yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada adalah tidak sah.

b. Jual beli barang yang tidak dapat diserahkan. Jual beli barang yang tidak dapat diserahkan, seperti burung yang ada di udara atau ikan yang ada di air tidak berdasarkan ketetapan syara’.

c. Jual beli gharar. Jual beli gharar adalah jual beli barang yang mengandung kesamaran. Hal itu dilarang dalam Islam sebab Rasulullah Saw bersabda,

“janganlah kamu membeli ikan dalam air karena jual beli seperti itu termasuk gharar (menipu)”. (HR Ahmad) Menurut Ibn Jazi al-Maliki, gharar yang dilarag ada 10 macam :

- Tidak dapat diserahkan, seperti menjual anak hewan yang masih dalam kandungan induknya
- Tidak diketahui harga dan barang
- Tidak diketahui sifat barang atau harga
- Tidak diketahui ukuran barang dan harga
- Tidak diketahui masa yang akan datang seperti, “Saya jual kepadamu jika fulan datang”.
- Menghargakan dua kali pada satu barang
- Menjual barang yang diharapkan selamat
- Jual beli husha’ misalnya pembeli memegang tongkat , jika tongkat jatuh maka wajib membeli
- Jual beli munabadzah yaitu jual beli dengan cara lempar melempari seperti seseorang melempar bajunya, kemudian yang  lain pun melembar bajunya maka jadilah jual beli
- Jual beli mulasamah apabila mengusap baju atau kain maka wajib membelinya

d. Jual beli barang yang najis dan yang terkena najis.  Ulama sepakat tentang larangan jual beli barang yang najis seperti khamr.  Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang barang yang terkena najis (al-mut anajis) yang tidak mungkin dihilangkan seperti minyak yang terkena bangkai tikus.Ulama Hanafiyah membolehkannya untuk barang yang tidak untuk dimakan, sedangkan ulama Malikiyah membolehkannya setelah dibersihkan.

e. Jual beli air. Disepakati bahwa jual beli air yang dimiliki seperti  air sumur atau yang disimpan di tempat pemiliknya dibolehkan oleh jumhur ulama empat madzhab. Sebaliknya ulama zhahiriyah melarang secara mutlak.Juga disepakati larangan atas jual beli air yang mubah yakni semua manusia boleh memanfaat kannya.

f . Jual beli barang yang tidak jelas (majhul). Menurut ulama Hanafiyah, jual beli seperti ini adalah fasad, sedangkan menurut jumhur batal sebab akan mendat angkan pertentangan di antara manusia.

g. Jual beli barang yang tidak ada di tempat akad (ghaib), tidak dapat dilihat. Menurut ulama Hanafiyah, jual beli seperti ini dibolehkan tanpa harus menyebut kan sifat-sifat nya tetapi pembeli berhak khiyar ketika melihat nya.Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah menyat akan tidak sah, sedangkan ulama Malikiyah membolehkannya bila disebut kan sifat-sifat nya dan mensyarat kan 5 macam :
- Harus jauh sekali tempat nya
- Tidak boleh dekat sekali tempatnya
- Bukan pemiliknya harus ikut memberikan gambaran
- Harus meringkas sifat-sifat barang secara menyeluruh
- Penjual tidak boleh memberikan syarat
h. Jual beli sesuatu sebelum dipegang. Ulama Hanafiyah  melarang jual beli barang yang dapat dipindahkan sebelum dipegang tetapi untuk barang yang tetap dibolehkan.Sebaliknya, ulama Syafi’iyah melarangnya secara mutlak. Ulama Malikiyah melarang atas makanan, sedangkan ulama Hanabilah melarang atas makanan yang diukur.

i. Jual beli buah-buahan atau tumbuhan. Apabila belum terdapat buah, disepakati tidak ada akad. Setelah ada buah tetapi belum matang, akadnya fasid menurut ulama Hanafiyah dan batal menurut jumhur ulama. Adapun jika buah-buahan atau tumbuhan itu telah matang, akadnya dibolehkan.

4. Terlarang Sebab Syara’.Ulama sepakat membolehkan jual beli yang memenuhi persyaratan dan rukunnya. Namun demikian, ada beberapa masalah yang diperselisihkan diantara para ulama, diantaranya berikut ini :

a. Jual beli riba. Riba nasiah dan riba fadhl adalah fasid menurut ulama Hanafiyah tetapi batal menurut jumhur ulama.

b. Jual beli dengan uang dari barang yang diharamkan. Menurut ulama Hanafiyah termasuk fasid (rusak) dan terjadi akad atas nilainya, sedangkan menurut jumhur ulama adalah batal sebab ada nash yang jelas dari hadits Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah Saw mengharamkan jual beli khamr, bangkai, anjing dan patung.

c. Jual beli barang dari hasil pencegatan barang. Yakni mencegat pedagang dalam perjalanannya menuju tempat yang dituju (pasar) sehingga orang yang mencegat nya akan mendapat keuntungan. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa hal itu makruh tahrim.Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat , pembeli boleh khiyar. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa jual beli seperti itu termasuk fasid.

d. Jual beli waktu adzan Jum’at. Yakni bagi laki-laki yang berkewajiban melaksanakan shalat Jum’at . Menurut ulama Hanaf iyah pada waktu adzan pertama. Sedangkan menurut ulama lainnya, adzan ketika khatib sudah berada di mimbar (adzan kedua).Ulama Hanafiyah menghukumi makruh tahrim, sedangkan ulama Syafi’iyah menghukumi shahih haram. Tidak jadi pendapat yang masyhur di kalangan ulama Malikiyah dan tidak sah menurut ulama Hanabilah.

e. Jual beli anggur untuk dijadikan khamr. Menurut ulama Hanaf iyah dan Syaf i’iyah zhahirnya shahih tetapi makruh. Sedangkan menurut ulama Malikiyah dan Hanabilah adalah batal.

f . Jual beli induk tanpa anaknya yang masih kecil. Hal itu dilarang sampai anaknya besar dan dapat mandiri.

g. Jual beli barang yang sedang dibeli oleh orang lain. Seseorang telah sepakat akan membeli suatu barang, namun masih dalam khiyar, kemudian datang orang lain yang menyuruh untuk membatalkannya sebab ia akan membelinya dengan harga yang tinggi.

h. Jual beli memakai syarat. Menurut ulama Hanafiyah, sah jika syarat tersebut baik, seperti, “Saya akan membeli baju ini dengan syarat bagian yang rusak dijahit dulu”.Begitu pula menurut ulama Malikiyah membolehkannya jika bermanfaat . Menurut ulama Syaf i’iyah dibolehkan jika syarat maslahat bagi salah satu pihak yang melangsungkan akad, sedangkan menurut ulama Hanabilah, tidak dibolehkan jika hanya bermanfaat bagi salah satu yang akad.

0 comments:

Post a Comment